Selasa, 02 April 2019

Drama Baru Pagi Hari

       Setelah sedikit paham tentang pemetaan pola anak, maka saya akhir-akhir ini berusaha membuat pola baru yaitu tidur lebih cepat dan bangun lebih cepat. Sebenarnya Fitrah manusia yang diberikan oleh Allah sudah menginstal kita untuk bangun saat fajar, buktinya bayi yang baru lahir sekalipun pasti akan bangun di awal hari, hanya saja kita sering bebal atau memanjakan sang bayi,  dengan alasan 

       "Masih pagi Nak, ayo kita tidur lagi" Atau alasan 

       "Umi masih ada kerjaan di dapur, Nak, kamu tidur lagi yah?" 

       Hingga akhirnya, yang terjadi sang anak terpola untuk bangun lambat, yah itu juga adalah kesalahan saya pada Kakak, dahulu sering mengucapkan hal itu.

       Beberapa hari belakangan, Kakak saya jadwalkan untuk bangun lebih awal sebelum jam 06:00, dahulu Kakak akan bangun jam 08:00 atau bahkan jam 09:00 tak bisa dibayangkan jika itu terus berlanjut, mungkin drama bangun tidur seperti yang terjadi hari ini akan terus berulang.

    Sedang sang adik memang selalu lebih dahulu bangun tanpa harus dibangunkan, saya senantiasa berharap kesalahan pada Kakak tidak akan terulang pada sang Adik.

       Drama dimulai saat saya membangunkannya, membujuk untuk bermain diluar melihat matahari terbit, hari ini kebetulan cerah, waktu menunjukkan pukul 05:45, yang bangun adalah sang Adik, sedang kakak masih mengeliat sambil menggerutu entah apa yang dikatakannya.

       Tepat pukuk 06:00 saya kembali membangunkan kakak, kali ini berhasil membujuknya dengan iming-iming keluar rumah jalan-jalan, dan suami membantu saya untuk membuka pintu agar Kakak mau beranjak dari tempat tidur, sukses, keluar kamar, tapi drama berlanjut ngambek didepan pintu sambil berteriak untuk menutup pintu. Sang adik sudah ngacir di depan rumah dengan sendal bebek yang bunyinya menunjukkan keberadaannya.

       Setelah 10 menit, masih di depan pintu, saya melanjutkan aktivitas memasak saya di dapur. Adik sudah selesai bermain sambil menunjukkan selembar daun yang dibawanya dari luar. meminta minum dan meminta kue, akhirnya saya mengambilkan kue dodol yang sejak lama ada di kulkas, memotong beberapa bagian.

        Ternyata Drama Kakak masih berlangsung dia sambar setiap potongan kue yang saya berikan kepada sang Adik, sambil teriak-teriak, saya mengambilkan potongan kue lainnya kepada Adik, nampaknya dia masih melakukan hal yang sama, saya pisahkan adik sedikit kebelakang, tangan kakak sengaja memukul tangan Adik, Adik menangis, lalu saya berkata

       "Kakak mau nya apa?"

       "Kakak mau kue, ini, kue nya"

     Ternyata, dia masih belum mau bicara, bahkan membuang setiap potongan kue yang saya arahkan kepadanya, saya pun berinisiatif pisahkan lebih jauh, kali ini Kakak menangis, saya mengulang perkataan sebelumnya, belum berhasil juga, sampai beberapa menit berlalu, saya memilih mengajak bicara Adik, untuk mengalihkan perhatiannya. ternyata berhasil, suara tangisannya melambat.

       "Mau minum susu" kata Kakak kemudian

       "Nah, bilang kalau ada maunya, jangan marah dulu" kataku

     "Kalau marah-marah, itu ada setan bisikin di telinga Kakak, jangan didengar" lanjutku menjelaskan

      Terlihat ekspresinya mungkin sedang membayangkan film cartoon Nussa saat sedang marah, drama berakhir.

   Kadang kebiasaan kecil memang harus dipolakan sejak dini untuk meminimalisir drama lebih besar nantinya. Alhamdulillah,,, Allah mudahkan saya mengelola emosi dan berkomunikasi lebih positif setiap harinya.







#hari6
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional       



       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar